April 29, 2026

Indibiz Borneo Dukung UMKM Perempuan Bertahan di Era Digital

Indibiz Borneo mendorong pelaku UMKM perempuan untuk tidak hanya bertahan, tetapi berani naik kelas. (Sepintasinfo.com)

Indibiz Borneo mendorong pelaku UMKM perempuan untuk tidak hanya bertahan, tetapi berani naik kelas. (Sepintasinfo.com)

BALIKPAPAN – Di tengah derasnya arus digitalisasi, Indibiz Borneo mendorong pelaku UMKM perempuan untuk tidak hanya bertahan, tetapi berani naik kelas. Lewat webinar bertajuk “Kartini In This Economy – Menjadi Kartini di Era Digital” yang digelar Senin (27/4/2026), momentum Hari Kartini dimanfaatkan sebagai titik dorong perubahan.

Webinar ini diikuti pelaku usaha perempuan dari berbagai daerah dengan satu keresahan yang sama: bagaimana tetap relevan di tengah persaingan bisnis yang makin cepat dan digital.

Narasumber Shinta Rizki Delvinda, womanpreneur sekaligus content creator, menyampaikan realita yang cukup menohok—banyak UMKM gagal berkembang bukan karena produknya buruk, tetapi karena tidak mampu tampil di ruang digital.

“Sekarang bukan soal siapa yang paling bagus, tapi siapa yang paling terlihat dan dipercaya,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa personal branding, konsistensi konten, dan kemampuan membaca tren menjadi kunci. Tanpa itu, UMKM akan tertinggal, meski punya produk berkualitas.

Tak berhenti di situ, Shinta juga menggarisbawahi pentingnya mental bertumbuh. Menurutnya, perempuan punya peluang besar menjadi motor ekonomi, tetapi sering kali terhambat oleh keraguan dan ketakutan untuk memulai atau berkembang.

“Digital itu peluang, bukan ancaman. Tapi harus berani masuk dan belajar,” tegasnya.

Diskusi berlangsung aktif. Peserta tak hanya mendengar, tetapi juga mengkritisi dan berbagi pengalaman—dari kesulitan menjangkau pasar hingga tantangan menjaga konsistensi konten. Ini menunjukkan satu hal: problem UMKM hari ini bukan lagi sekadar modal, tapi mindset dan adaptasi.

Melalui webinar ini, Indibiz Borneo memperjelas posisinya—bukan sekadar penyedia internet, tapi bagian dari dorongan transformasi. Pesannya sederhana tapi tajam: UMKM perempuan tidak cukup hanya ikut arus digital, mereka harus mampu menguasainya. (*)